Tahukah Anda tentang Asal Mula Penyembahan Berhala?

Bissmillahirrahmanirrahim


Yang pertama kali memprakarsai kesyirikan di jazirah Arab adalah orang dari keturunan Ismail. Mulanya, bila mereka keluar dari Tanah Haram untuk mencari rezeki, mereka membawa batu dari Tanah Haram untuk dibawa serta. Jika mereka singgah di sebuah tempat, mereka meletakkan batu itu di sisi mereka. Kemudian mereka bertawaf (mengelilingi) batu tersebut sebagaimana tawaf di Baitullah. Bersamaan dengan itu, mereka juga berdoa kepada Allah. Apabila mereka kembali melanjutkan perjalanan, batu itu tak lupa dibawa serta. Demikian seterusnya.

Seiring kematian si pembuat bid’ah ini, serta sejalan dengan pergantian zaman, hiduplah generasi jahil yang jatuh hati kepada batu yang menjadi berhala tadi. Mereka mengira batu itu adalah tuhan yang mampu mendekatkan mereka kepada Allah Ta’ala Rabb Baitullah Al-Haram.

Itulah cikal-bakal penyembahan berhala oleh anak cucu Ismail dari keturunan Adnan.
Bagaimana dengan berhala berbentuk patung?
Penyembahan berhala berbentuk patung dan gambar dimulai oleh ‘Amr bin Luhay Al-Khuza’i, seseorang berdarah Syam yang hijrah ke negeri-negeri Hijaz.
Suatu ketika, dia bersafar dari Mekkah menuju Syam. Di Syam, dia melihat para penduduk  setempat menyembah berhala. Dia pun bertanya, “Berhala apa yang kalian sembah ini?”
Para penduduk menjawab, “Kami menyembahnya supaya dia menurunkan hujan, ternyata dia benar-benar menurunkan hujan bagi kami. Kami memohon pertolongannya, ternyata dia benar-benar menolong kami.”
‘Amr bin Luhay berkata, “Bolehkah kalian berikan berhala itu untukku supaya aku membawanya pulang ke negeri Arab dan penduduk di sana bisa menyembahnya?”
Akhirnya penduduk Syam memberi berhala yang mereka namai “Hubal” itu. Demikianlah, Hubal pun dipajang oleh penduduk Mekkah di sekitar Ka’bah. Hubal tetap ditempatkan di sana hingga tibanya hari kemenangan Islam.
Kala kemenangan itu tiba, Hubal beserta 320 berhala lainnya dihancurkan dan dijauhkan dari Ka’bah. Dengan demikian, Baitullah Al-Haram menjadi suci bersih tanpa berhala. Demikian pula Mekkah dan Tanah Haram kembali menjadi suci dari berhala. Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.
Lalu, bagaimana nasib ‘Amr bin Luhay selanjutnya?
Dia terusir dari Mekkah yang suci. Penduduk Mekkah mengharamkan ‘Amr bin Luhay menginjakkan kakinya lagi di sana. Dahulu dia menciptakan syariat baru kemudian penduduk Mekkah mengikutinya. Dia juga membuat bid’ah dan memperindah bid’ah itu. Itulah pertama kalinya ada yang mengganti agama Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam di kawasan Hijaz.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi tentang peristiwa ini,
رأيت عمرو بن لحي يجر قصبة في النار … إنه أول من غير دين إسماعيل فنصب الأوثان وبحر البحيرة وسيب السائبة ووصل الوصيلة وحمى الحامي …
“Aku melihat ‘Amr bin Luhay menarik usus di nereka –dialah yamg pertama kali mengubah agama Ismail kemudian dia memasang berhala– Dialah yang memulai membuat aturan tentang onta bahirah (1), saaibah (2), washiilah (3), dan Ham (4)”  (Hadits shahih)
Marji’: Hadza Al-Habib Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Ya Muhib, karya Syekh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, Darul Hadits, Kairo.

Bahirah adalah onta betina yang telah beranak lima kali dan anak yang kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil susunya.
Saaibah adalah onta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran sesuatu nadzar. Seperti, jika seorang Arab Jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka ia biasa bernadzar akan menjadikan ontanya saaibah bila maksud atau perjalanannya berhasil dan selamat.
Washiilah adalah seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.
Haam adalah unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingkan unta jantan sepuluh kali. Perlakuan terhadap Bahirah, Saaibah, Washiilah dan Haam ini adalah kepercayaan Arab Jahiliyah.
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Athirah Ummu Asiyah
Muroja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits


Shalat sebagai Rasa Syukur kepada Allah

Bissmillahirrahmanirrahim


Saudariku …
Di antara perintah terbesar yang dilakukan seorang muslim, setelah bertauhid kepada Allah, adalah melakukan shalat. Sedah selayaknya, pengakuan akan nikmat Allah serta kebaikan-Nya diwujudkan dengan melaksanakan shalat karena dalam shalat terdapat rukuk, sujud, dan ketundukan hati. Setelah kita melakukan shalat berarti kita sudah bersyukur kepada Allah bahwa kita merasa diawasi oleh-Nya. Jadi, kalau kita tidak melaksanakan shalat maka kita tidak bersyukur kepada Allah dan telah melakukan kufur nikmat. Bahkan, di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat telah keluar dari Islam. Shalat merupakan tuang agama, jika tidak dilaksanakan maka agama akan roboh.
Shalat merupakan perkara yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح له سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله
Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (H.r. Ath-Thabrani dalam Al-Mujamul Ausath, II:512, no. 1880 dari sahabat Anas bin Malik. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Akbani daam kitabShahih Al-Jamu’ish Shaghir, no. 2573 dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, III:343, no. 1358)
Dalam hadits yang lain, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أول ما يحاسب به العبد بصلاته ، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح ، وإن فسدت فقد خاب وخسر ، وإن انتقص من فريضته قال الرب: انظروا هل لعبدي من تطوع؟ فيكمل بها ما انتقص من الفريضة ، ثم يكون سائر عمله على ذلك
Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka ia telah berbahagia dan sukses, tetapi apabila shalatnya jelek maka ia telah celaka dan merugi. Dan apabila ia kurang dalam melakukan shalat wajib maka Allah akan berkata, ‘Lihatlah apakah hamba-hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Lantas disempurnakanlah dengannya yang kurang dari shalat wajib itu. Kemudian yang demikian itu berlaku pula bagi seluruh amalnya.” (H.r. At-Tirmidzi, no. 413; An-Nasa’i, I:232—233; Al-Baihaqi, II:387. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib, no. 540 dan Shaihh Al-Jami’ish Shaghir, no. 2020)
Kedua hadits di atas menunjukkan begitu pentingnya masalah shalat.
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إنّ بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة
Sesungguhnya (batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (H.r. Muslim, no. 82 dari shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu)
***
Artikel muslimah.or.id
Dikutip dari buku Sebaik-Baik Amal adalah Shalat, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Jumadil Akhir 1428 H/ Juni 2007 M, Pustaka At-Taqwa, Bogor.



Nasihat Untuk Para Wanita Muslimah Salafiyah Yang Akan Menikah

Bissmillahirrahmanirrahim



Berikut ini adalah nasihat yang diberikan untuk seorang wanita muslimah salafiyah yang akan melakukan pernikahan, diambil dari Forum Sahab as-Salafiyyah:
 Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

Pertama: kami memberikan ucapan selamat kepadamu dengan pernikahan yang diberkahi ini. Kami memohon kepada Allah untuk memberi taufik kepadamu dan memudahkan segala kebaikan untukmu.


Kedua: Di sini bukanlah tempat yang cocok wahai saudariku untuk menuliskan untukmu perkara-perkara yang khusus dengan kehidupan berkeluarga dengan segala rinciannya, sebagaimana yang engkau inginkan. Kerana di sini akan dilihat oleh semua orang, dan kami tidak menginginkan fitnah bagi saudara-saudara kaum muslimin laki-laki dengan hal itu. Kami memohon kepada Allah untuk memberikan kepada semua dengan suami-suami dan isteri-isteri yang sholih.

Ketiga: Kami akan memberimu satu nasihat umum yaitu hendaknya engkau bertakwa kepada Allah dalam perkara diri kamu, suamimu, dan keluarga suamimu.

  • Ketahuilah bahwa engkau itu adalah seorang tamu di rumah bapamu. Sedangkan rumah suamimu itu adalah rumahmu yang kamu akan tinggal di sana. Maka berbuat baiklah dalam bergaul dengan suamimu dan keluarganya.
  • Janganlah engkau menjadikan dua matanya melihatmu dalam keadaan engkau berpenampilan tidak indah. Dan hati-hatilah engkau dari bermuka masam di depannya padahal dia sedang bergembira. Dan berhati-hatilah engkau dari bergembira dan menampakkan kebahagiaan ketika suamimu sedih.
  • Taatilah suamimu dalam perkara yang diperintahkan suamimu, kecuali bila dia memerintahkan dengan satu kemaksiatan. Maka tidak ada ketaatan untuk suamimu dalam kemaksiatan.
  • Jagalah hak suamimu pada dirimu, hartanya, keluarganya, kehormatannya, rumahnya, dan anak-anaknya.
  • Janganlah engkau tidur ketika suamimu marah kepadamu hingga engkau membuatnya ridha, meskipun kebenaran itu padamu, damailah dengan dia diiringi bujukan yang ringan.
  • Hormatilah dia sesuai dengan mencurahkan segala kemampuanmu, janganlah engkau banyak mendebatnya dan janganlah engkau banyak mengeluh, serta bertawakalah kepada Allah atas urusanmu.
  • Berapapun rezki yang Allah takdirkan untuk suamimu maka redhoilah, dan engkau jangan membebaninya lebih dari kemampuannya.
  • Jagalah rahsia rumahmu khususnya perkara ranjang, tak boleh kamu membicarakannya meskipun kepada ibumu. Sembunyikanlah rahsiamu, jangan ibumu dan ibu suamimu melihatnya.
  • Janganlah engkau memperbesar permasalahan apapun yang terjadi di antara kalian berdua.
Dan aku memohon kepada Allah untuk memberi taufik kalian berdua dan menyatukan kalian berdua di atas kebaikan. Aku memohon kepada Allah untuk membuatmu membantu urusan dunia dan akhiratnya.

Oleh Saudarimu
Ummu Du’a as-Salafiyyah





Kenapa di lemparkan ke dalam neraka ?

Bissmillahirrahmanirrahim


Ada pendakwah/ da'ie yang dilemparkan kedalam neraka? mengapa? 

Dari Al A'masy dari Abu Wa'il berkata; "Dikatakan kepada Usamah;

لَوْ أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لَا أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ لِرَجُلٍ أَنْ كَانَ عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 


قَالُوا وَمَا سَمِعْتَهُ يَقُولُ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ 



يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ



"Seandainya kamu temui fulan ('Utsman bin 'Affan radliallahu 'anhu) lalu kamu berbicara dengannya". Usamah berkata; "Apakah kamu berpendapat semua nasihatku kepadanya itu harus diperdengarkan kepada kamu. Sungguh aku sudah berbicara kepadanya secara rahasia, Dan aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu (fitnah) ini. Aku juga tidak akan mengatakan kepada seseorang yang seandainya dia menjadi pemimpinku, bahwa dia sebagai manusia yang lebih baik, setelah kudengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam". 

Mereka bertanya; "Apa yang kamu dengar dari sabda Beliau Shallallahu'alaihiwasallam ". Usamah berkata; "Aku mendengar Beliau bersabda: 

Pada hari kiamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingnya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata; "Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat makruf dan melarang kami berbuat mungkar?". Orang itu berkata; "Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat makruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat mungkar, namun malah aku mengerjakannya" 

(HR al-Bukhari no. 3027 dan Muslim no. 5305)




JANGAN MUDAH MENGKAFIRKAN ORANG!

Bissmillahirrahmanirrahim



Ibnu ‘Umar r.a berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai orang kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” 
(Shah

ih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no. 60)

Abu Dzar r.a juga menuturkan hal yang sama dari Rasulullah saw:

“Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 61)