Iftor Jamaie ;PERTINAM :)

Bissmillahirrahmanirrahim



Alhamdulillah, kucupan syukur buatMu kerana Dia dapat menemukan kami semua pada hari ahad 28hb 8 2011. Majlis iftor tersebut di kelolakan oleh seorang saudara Anuar Syafiq bin Idrus iaitu bekas Setiausaha PERTINAM. Bertempat di  kantin DMW dan kami berkumpul sekitar pukul 5 petang lebih. Main menu : Nasi tomato dan air sarsi.


 a special cake for them :)
(saya yang buat tuh, hihi)

Kegirangan kami bersama turut di rasai dengan bertemunya sahabat-sahabat yang sudah hampir setahun lamanya tidak dapat bertemu. Seorang demi seorang sahabat datang dengan membawa buah tangan sedikit untuk berbuka puasa nanti. Keriuhan kami dan gelak tawa kami begitu mesra dan di selit pelbagai pengalaman dan perkongsian hidup masing-masing. Seronok !

Terima kasih sahabat kerana sudi juga hadir dan mengisi masa bersama kita ke majlis berbuka puasa untuk PERTINAM 2010. Kepada yang tidak dapat hadir, tidak mengapa. InsyAllah pada hari lain dan tahun lain kita bisa ketemu lagi. InsyAllah.




Credit buat mereka :
Hazirah*Amira*Amiza*Amiza Jidin*Adilah*Aisyah*Hafizah*Widad*Atikah*Fatin Shuhada*Nazirah*Syima*Muteah*Durratunnadhirah*Ukht Syahida*Ukht Syuhada*Aziemah*Afifah*Liyana*serta mereka-mereka lelaki*




ibtisam92
^^


Jangan berdebat tanpa ilmu ..

Bissmillahirrahmanirrahim



LARANGAN BERDEBAT TANPA ILMU

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلاَ هُدًى وَلاَ كِتَابٍ مُنِيْرٍ. ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ. ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ 

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat. Kami merasakan kepadanya adzab neraka yang membakar. (Akan dikatakan kepadanya): ‘Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya’.” (Al-Hajj: 8-10) 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat 
ثَانِيَ عِطْفِهِ 
“Memalingkan lambung atau lehernya.” Ini merupakan gambaran bahwa dia tidak menerima dan berpaling dari sesuatu.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan: “Ia menyombongkan diri dari kebenaran jika diajak kepadanya.”

Mujahid, Qatadah, dan Malik dari Zaid bin Aslam mengatakan: “Memalingkan lehernya, yaitu berpaling dari sesuatu yang dia diajak kepadanya dari kebenaran, karena sombong.” Seperti firman-Nya: 


وَفِي مُوْسَى إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلَى فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُبِيْنٍ. فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ “Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka dia (Fir’aun) berpaling (dari keimanan) bersama tentaranya, dan berkata: ‘Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila’.” (Adz-Dzariyat: 38-39)

Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullahu berkata: “Yang benar dari penafsiran tersebut adalah dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala ini tanpa ilmu, bahwa itu karena kesombongannya. Jika diajak kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia berpaling dari yang mengajaknya, sambil memalingkan lehernya dan tidak mau mendengar apa yang dikatakan kepadanya dengan berlaku sombong.” 
(Tafsir At-Thabari)
لِيُضِلَّ 
“Untuk menyesatkan.” Ada yang mengatakan bahwa huruf lam dalam ayat ini adalah menjelaskan tentang akibat. Maknanya yaitu yang berakibat dia menyesatkan (manusia) dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Qurthubi rahimahullahu dalam tafsirnya. Adapula yang mengatakan bahwa huruf lam tersebut sebagai ta’li, yang berarti bertujuan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi)

Penjelasan Makna Ayat 


Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu tatkala menjelaskan ayat ini, mengatakan:

“Perdebatan tersebut bagi seorang muqallid (yang mengikuti satu perkataan tanpa dalil). Perdebatan ini berasal dari setan yang jahat yang menyeru kepada berbagai bid’ah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa dia mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara mendebat para rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para pengikutnya dengan cara yang batil dalam rangka menggugurkan kebenaran, tanpa ilmu yang benar dan petunjuk. Dia tidak mengikuti sesuatu yang membimbingnya dalam perdebatannya itu. Tidak dengan akal yang membimbing dan tidak pula dengan seseorang yang diikuti karena hidayah. Tidak pula dengan kitab yang bercahaya, yaitu yang jelas dan nyata. Dia tidak memiliki hujjah baik secara aqli maupun naqli, namun hanya sekedar menampilkan syubhat-syubhat yang dibisikkan oleh setan kepadanya. (Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman):
وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ 
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (Al-An'am: 121)

Bersamaan dengan itu, dia memalingkan lambung dan lehernya. Ini merupakan gambaran tentang kesombongannya dari menerima kebenaran serta menganggap remeh makhluk yang lain. Dia merasa bangga dengan apa yang dia miliki berupa ilmu yang tidak bermanfaat, serta meremehkan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan al-haq yang mereka miliki. Akibatnya, dia menyesatkan manusia, yaitu dia termasuk ke dalam penyeru kepada kesesatan. Termasuk dalam hal ini adalah semua para pemimpin kufur dan kesesatan. Lalu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menyebutkan hukuman yang mereka dapatkan di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ 
“baginya di dunia kehinaan.” Yaitu, dia akan menjadi buruk di dunia sebelum di akhirat."

Dan ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menakjubkan, di mana tidaklah engkau mendapati seorang da’i yang menyeru kepada kekafiran dan kesesatan melainkan dia akan dimurkai di jagad raya ini. Ia mendapatkan laknat, kebencian, celaan, yang berhak ia peroleh. Setiap mereka tergantung keadaannya. 


وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ “Dan Kami akan merasakan kepadanya pada hari kiamat adzab neraka yang membakar.”

yaitu Kami akan menjadikan dia merasakan panasnya yang dahsyat dan apinya yang sangat panas. Hal itu disebabkan apa yang telah dia amalkan. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berlaku dzalim terhadap hamba-hamba-Nya. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang sesat yang jahil dan hanya bertaqlid dalam firman-Nya: 


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ “Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat.” (Al-Hajj: 3)

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut dalam ayat ini keadaan para penyeru kepada kesesatan dari tokoh-tokoh kekafiran dan kesesatan. Yaitu, di antara manusia ada yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tanpa ilmu, tanpa hidayah, dan tanpa kitab yang bercahaya, yaitu tanpa akal sehat dan tanpa dalil syar’i yang benar dan jelas. Namun hanya sekedar akal dan hawa nafsu. (Tafsir Ibnu Katsir)

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang siapa yang dimaksud dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah An-Nadhr bin Al-Harits dari Bani Abdid Dar, tatkala dia berkata bahwa para malaikat ini merupakan anak-anak perempuan Allah. Adapula yang mengatakan yang dimaksud adalah Abu Jahl bin Hisyam, dan ada lagi yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Al-Akhnas bin Syuraiq. Namun ayat ini mencakup setiap yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berakibat menolak kebenaran dan menjauhkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dia orang kafir, munafik, atau dari kalangan ahli bid’ah.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma tatkala beliau menjelaskan makna “ia memalingkan lehernya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah”: “Dia adalah ahli bid’ah.” (lihat Tafsir Al-Qurthubi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tanpa ilmu” ini merupakan celaan terhadap setiap orang yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ilmu. Juga merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya (berdebat) bila dengan ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibrahim ‘alaihissalam dengan kaumnya.” (Majmu’ Fatawa, 15/267)

Berdebat, antara yang Boleh dan yang Terlarang 
Terdapat nash-nash yang menjelaskan tentang tercelanya berdebat dalam agama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: 

مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا فَلاَ يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلاَدِ “Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.” (Ghafir: 4)


dan firman-Nya: 
إِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِي آيَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُوْرِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيْهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Ghafir: 56)



Telah diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلىَ اللهِ اْلأَلَدُّ الْخَصِمُ “Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka berdebat.” (Muttafaq Alaihi)
Juga dari hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوا الْجَدَلَ. ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ اْلآيَةَ: {مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ} “Tidaklah tersesat satu kaum setelah mendapatkan hidayah yang dahulu mereka di atasnya, melainkan mereka diberi sifat berdebat.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58) [HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 5633]

Abdurrahman bin Abiz Zinad berkata: “Kami mendapati orang-orang yang mulia dan ahli fiqih -dari orang-orang pilihan manusia- sangat mencela para ahli debat dan yang mendahulukan akalnya. Dan mereka melarang kami bertemu dan duduk bersama orang-orang itu. Mereka juga memperingatkan kami dengan keras dari mendekati mereka.” (lihat Al-Ibanah Al-Kubra 2/532, Mauqif Ahlis Sunnah, Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili 2/591) 

Demikian pula Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: “Pokok-pokok ajaran As-Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh di atas metode para sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti mereka, dan meninggalkan bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan meninggalkan pertengkaran serta duduk bersama pengekor hawa nafsu, juga meninggalkan dialog dan berdebat serta bertengkar dalam agama ini.” (Syarh Al-Lalika`i, 1/156, Mauqif Ahlis Sunnah, Ar-Ruhaili 2/591) 

Wahb bin Munabbih rahimahullahu berkata: “Tinggalkan perdebatan dari perkaramu. Karena sesungguhnya engkau tidak akan terlepas dari menghadapi salah satu dari dua orang: (1) orang yang lebih berilmu darimu, lalu bagaimana mungkin engkau berdebat dengan orang yang lebih berilmu darimu? (2) orang yang engkau lebih berilmu darinya, maka bagaimana mungkin engkau mendebat orang yang engkau lebih berilmu darinya, lalu dia tidak mengikutimu? Maka tinggalkanlah perdebatan tersebut!” (Lammud Durr, karangan Jamal Al-Haritsi hal. 158) 

Namun di samping dalil-dalil yang melarang berdebat tersebut di atas, juga terdapat nash-nash lain yang menunjukkan kebolehannya. Di antara yang menunjukkan bolehnya berdebat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: 


ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa kisah debat antara Rasul-Nya dengan orang-orang kafir. Seperti kisah Ibrahim ‘alaihissalam yang mendebat kaumnya. Demikian pula debat Nabi Musa ‘alaihissalam dengan Fir’aun, dan berbagai kisah lainnya yang disebutkan dalam Al-Qur`an. Demikian pula dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan perdebatan antara Nabi Adam dan Musa ‘alaihissalam, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. 

Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Banyak dari kalangan imam salaf mengatakan: Debatlah kelompok Al-Qadariyyah dengan ilmu, jika mereka mengakui maka mereka membantah (pemikiran mereka sendiri). Dan jika mereka mengingkari, maka sungguh mereka telah kafir.” 

Demikian pula banyak terjadi perdebatan di kalangan ulama salaf, seperti yang terjadi antara ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu dengan Ghailan Ad-Dimasyqi Al-Qadari, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma yang mendebat kelompok Khawarij, Al-Auza’i rahimahullahu yang berdebat dengan seorang qadari (pengikut aliran Qadariyyah), Abdul ‘Aziz Al-Kinani rahimahullahu dengan Bisyr bin Ghiyats Al-Marisi Al-Mu’tazili, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dengan para tokoh ahli bid’ah, serta yang lainnya, yang menunjukkan diperbolehkannya melakukan dialog dan debat tersebut. (Mauqif Ahlis Sunnah, 2/597) 

Apa yang telah kami sebutkan di atas menunjukkan bahwa dalam masalah berdebat, tidak dihukumi dengan sikap yang sama. Namun tergantung dari keadaan, tujuan, dan maksud dari perdebatan tersebut. An-Nawawi rahimahullahu berkata: 

“Jika perdebatan tersebut dilakukan untuk menyatakan dan menegakkan al-haq, maka hal itu terpuji. Namun jika dengan tujuan menolak kebenaran atau berdebat tanpa ilmu, maka hal itu tercela. Dengan perincian inilah didudukkan nash-nash yang menyebutkan tentang boleh dan tercelanya berdebat.” 

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Pertengkaran dan perdebatan dalam perkara agama terbagi menjadi dua: 

Pertama: dilakukan dengan tujuan menetapkan kebenaran dan membantah kebatilan. Ini merupakan perkara yang terpuji. Adakalanya hukumnya wajib atau sunnah, sesuai keadaannya. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: 


ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Kedua: dilakukan dengan tujuan bersikap berlebih-lebihan, untuk membela diri, atau membela kebatilan. Ini adalah perkara yang buruk lagi terlarang, berdasarkan firman-Nya: 


مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا “Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.” (Ghafir: 4)


Dan firman-Nya: 
وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ “Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku adzab mereka. Maka betapa (pedihnya) adzab-Ku.” (Ghafir: 5) [Mauqif Ahlis Sunnah, 2/600-601]

Ibnu Baththah rahimahullahu berkata: “Jika ada seseorang bertanya: ‘Engkau telah memberi peringatan kepada kami dari melakukan pertengkaran, perdebatan, dan dialog (dengan ahlul bid'ah). Dan kami telah mengetahui bahwa inilah yang benar. Inilah jalan para ulama, jalan para sahabat, dan orang-orang yang berilmu dari kalangan kaum mukminin serta para ulama yang diberi penerangan jalan. Lalu, jika ada seseorang datang kepadaku bertanya tentang sesuatu berupa berbagai macam hawa nafsu yang nampak dan berbagai macam pendapat buruk yang menyebar, lalu dia berbicara dengan sesuatu darinya dan mengharapkan jawaban dariku; sedangkan aku termasuk orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ilmu tentangnya serta pemahaman yang tajam dalam menyingkapnya. Apakah aku tinggalkan dia berbicara seenaknya dan tidak menjawabnya serta aku biarkan dia dengan bid’ahnya, dan saya tidak membantah pendapat jeleknya tersebut?’ 

Maka aku akan mengatakan kepadanya: Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu– bahwa orang yang seperti ini keadaannya (yang mau mendebatmu), yang engkau diuji dengannya, tidak lepas dari tiga keadaan: 

(1) Adakalanya dia orang yang engkau telah mengetahui metode dan pendapatnya yang baik, serta kecintaannya untuk mendapatkan keselamatan dan selalu berusaha berjalan di atas jalan istiqamah. Namun dia sempat mendengar perkataan mereka yang para setan telah bercokol dalam hati-hati mereka, sehingga dia berbicara dengan berbagai jenis kekufuran melalui lisan-lisan mereka. Dan dia tidak mengetahui jalan keluar dari apa yang telah menimpanya tersebut, sehingga dia bertanya dengan pertanyaan seseorang yang meminta bimbingan, untuk mendapat solusi dari problem yang dihadapinya dan obat dari gangguan yang dialaminya. Dan engkau memandang bahwa dia akan taat dan tidak menyelisihinya. 

Orang yang seperti ini, yang wajib atasmu adalah mengarahkan dan membimbingnya dari berbagai jeratan setan. Dan hendaklah engkau membimbingnya kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta atsar-atsar yang shahih dari ulama umat ini dari kalangan para sahabat dan tabi’in. Semua itu dilakukan dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Dan jauhilah sikap berlebih-lebihan terhadap apa yang engkau tidak ketahui, lalu hanya mengandalkan akal dan tenggelam dalam ilmu kalam. Karena sesungguhnya perbuatanmu tersebut adalah bid’ah. Jika engkau menghendaki sunnah, maka sesungguhnya keinginanmu mengikuti kebenaran namun dengan tidak mengikuti jalan kebenaran tersebut adalah batil. Dan engkau berbicara tentang As-Sunnah dengan cara bukan As-Sunnah adalah bid’ah.

 Jangan engkau mencari kesembuhan saudaramu dengan penyakit yang ada pada dirimu. Jangan engkau memperbaikinya dengan kerusakanmu, karena sesungguhnya orang yang menipu dirinya tidak bisa menasihati manusia. Dan siapa yang tidak ada kebaikan pada dirinya, maka tidak ada pula kebaikan untuk yang lainnya. Siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri taufiq, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meluruskan jalannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong dan membantunya.” 

Abu Bakr Al-Ajurri rahimahullahu berkata: 

“Jika seseorang berkata: ‘Jika seseorang yang telah diberi ilmu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu ada seseorang datang kepadanya bertanya tentang masalah agama, lalu mendebatnya; apakah menurutmu dia perlu mengajaknya berdialog agar sampai kepadanya hujjah dan membantah pemikirannya?’ 

Maka katakan kepadanya: ‘Inilah yang kita dilarang dari melakukannya, dan inilah yang diperingatkan oleh para imam kaum muslimin yang terdahulu.’ 

Jika ada yang bertanya: ‘Lalu apa yang harus kami lakukan?’ 

Maka katakan kepadanya: ‘Jika orang yang menanyakan permasalahannya kepadamu adalah orang yang mengharapkan bimbingan kepada al-haq dan bukan perdebatan, maka bimbinglah dia dengan cara yang terbaik dengan penjelasan. Bimbinglah dia dengan ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah, perkataan para shahabat dan ucapan para imam kaum muslimin. Dan jika dia ingin mendebatmu, maka inilah yang dibenci oleh para ulama, dan berhati-hatilah engkau terhadap agamamu.’ 

Jika dia bertanya: ‘Apakah kita biarkan mereka berbicara dengan kebatilan dan kita mendiamkan mereka?’ 

Maka katakan kepadanya: ‘Diamnya engkau dari mereka dan engkau meninggalkan mereka dalam apa yang mereka bicarakan itu lebih besar pengaruhnya atas mereka daripada engkau berdebat dengannya. Itulah yang diucapkan oleh para ulama terdahulu dari ulama salafush shalih kaum muslimin." (Lammud Durr, Jamal Al-Haritsi hal. 160-162) 

Sumber: 
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=512
Imam Bukhari rahimahullah ta'ala berkata,
"Ilmu sebelum berbicara dan beramal."
(Shahih Bukhari kitabul al-Ilmu)


Debat ialah mempertahankan pendapatnya (masing-masing) meskipun ia mengetahui bahwa hal salah itu karena rasa egoisnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka suka mendebat."
(HR. Tirmidzi no. 3253, Ahmad V/252 - 256, Hakim II/447 - 448, Ibnu Majah no. 48)

"Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras ketika berdebat."
(HR. Bukhari no. 2457, Muslim no. 2668)

"Sesungguhnya perkara yang sangat aku takutkan atas ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah."
(HR. Ahmad I/22)

"Sesungguhnya perkara yang membinasakan ummat sebelum kalian adalah karena banyak mendebat."
(HR. Muslim no. 2666)

"Aku akan menjamin sebuah istana di taman Surga bagi siapa saja yang menghindari perdebatan sekalipun ia benar, dan menjamin istana ditengah-tengah Surga bagi siapa saja yang meninggalkan perkataan dusta meskipun bergurau."
(HR. Abu Dawud)

Sebaiknya sebagai seorang muslim kita harus ruju' (kembali) kepada pendapat yang benar jika kita salah bukan justru malah mempertahankannya.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah ta'ala berkata,
"Tidak seorang pun boleh berpegang pada pendapatnya bila menjumpai Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

dan

Imam asy-Syafi'i rahimahullah ta'ala berkata,
"Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah nyata baginya Sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka tidak dibenarkan baginya meninggalkannya karena ucapan seseorang."
(I'lamul Muwaqqi'in II/282).

waasalam~~
ibtisam92
^^

Salam Lebaran :)

Bissmillahirrahmanirrahim

Ramadhan..
Kini kau datang lagi dalam hidupku,
Ku bersyukur kerna aku dapat menikmatinya,
Menggamit jiwa taqwa,
Dengan bersama seribu keberkatan,
Dan membawa sejuta harapan.
Dalam menjalani ibadah,
Kepada yang Maha Esa,
Ramadhan,
Layakkah aku bersamaMu,
Dosaku bagaikan berbuih di lautan
Nodaku bagaikan pepasir di pantai,
Namun aku pasti rahmat Allah tidak bertepi,
Maghfirah Allah sentiasa menanti,
Semoga Ramadhan ini,
Memberi seribu erti.

Tiada panjang kata disini, hanya mohon seribu kemaafan buat insan-insan yang mengenal diri ini dengan mesra ucapan dari ku :



Credit:
*Sahabat-sahabat Sekolah Rendah SKBJ
*Sahabat-sahabat Sekolah Menengah DMW
*Sahabat-sahabat Tamhidian
*Serta insan-insan yang pernah mengenali diri ini :)

salah satu cara nak save kredit, HA-HA :P

Ibtisam92
^^


Sambutan/mengucapkan selamat hari lahir , bolehkah ?

Bissmillahirrahmanirrahim



Sambutan hari lahir atau birthday menjadi budaya masyarakat kita pada hari ini. Tidak pernah terlintas di minda kita adakah ia merupakan budaya orang barat atau tidak , dan di manakah asal-usul sejarah sambutan hari lahir ini. Kerana kita menggangap sambutan/mengucapkan selamat hari lahir itu hanya sekadar suka-suka padahal Nabi Muhammad saw pernah bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (1/676) dan Al-Irwa` no. 2384)


Ulang tahun termasuk di antara hari-hari raya jahiliah dan tidak pernah dikenal di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan tatkala penentuan hari raya adalah tauqifiah (terbatas pada dalil yang ada), maka menentukan suatu hari sebagai hari raya tanpa dalil adalah perbuatan bid’ah dalam agama dan berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu:

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ, وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Saya terutus kepada kalian sedang kalian (dulunya) mempunyai dua hari raya yang kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyah, dan sungguh Allah telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr (idul Adh-ha) dan hari Fithr (idul Fithri)”. (HR. An-Nasa`i (3/179/5918) dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4460)

Maka hadits ini menegaskan bahwa hari raya tahunan yang diakui dalam Islam hanyalah hari raya idul fithri dan idul adh-ha.

Kemudian, perayaan ulang tahun ini merupakan hari raya yang dimunculkan oleh orang-orang kafir. Sementara Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (1/676) dan Al-Irwa` no. 2384)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Hukum minimal yang terkandung dalam hadits ini adalah haramnya tasyabbuh kepada mereka (orang-orang kafir), walaupun zhahir hadits menunjukkan kafirnya orang yang tasyabbuh kepada mereka”. Lihat Al-Iqtidha` hal. 83

Dan pada hal. 84, beliau berkata, “Dengan hadits inilah, kebanyakan ulama berdalil akan dibencinya semua perkara yang merupakan ciri khas orang-orang non muslim”.

Kerananya tidak boleh seorang muslim mengucapkan selamat kepada siapapun yang merayakan hari raya yang bukan berasal dari agama Islam (seperti ultah, natalan, waisak, dan semacamnya), karena mengucapkan selamat menunjukkan keridhaan dan persetujuan dia terhadap hari raya jahiliah tersebut. Dan ini bertentangan dengan syariat nahi mungkar, dimana seorang muslim wajib membenci kemaksiatan. Wallahu a’lam.

Semoga ianya bermanfaat.


Disini :)

ibtisam92
^^

Muhasabah : Mereka yang tidak mampu tapi ..

Bissmillahirrahmanirrahim

Monolog ;


Ibnu Jauzi memberi nasihat: “Dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Sesiapa memanfaatkan waktu lapang dan sihat dalam rangka agenda ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, sesiapa memanfaatkan kedua-duanya dalam kancah kemaksiatan, dialah yang betul-betul telah tertipu. Sesudah waktu lapang, akan datang waktu penuh dengan kesibukan. Begitulah pula sesudah masa sihat, maka akan datang pula kesakitan yang tidak menyenangkan.

Dari Ramadhan pertama hingga ke hari  ini , saya memerhatikan seorang wanita yang umurnya sedang-sedang sahaja menunaikan solat di atas kerusi di sebuah surau penempatan saya. Ketekunannya membuatkan saya tertarik dengannya kerana dia tidak mampu untuk menunaikan solat seperti biasa. Dan paling kagum sekali wanita itu mampu untuk menunaikan solat isya' berjemaah hingga selesainya solat witir. Begitulah untuk hari-hari seterusnya.

Begitu juga dengan seorang lelaki yang umurnya 50-an. Seorang yang tidak mampu untuk berjalan seperti insan biasa tetapi ianya bukan penghalang baginya untuk beribadah kepada yang Maha Esa. Jarak rumahnya dengan surau lebih kurang 800 meter. Lelaki itu hanya menaiki kerusi rodanya sahaja dari rumah untuk ke surau demi menunaikan solat terawih berjemaah. Dan kerap kali juga terserempak dengannya di surau pada bulan-bulan lain yakni selain bulan Ramadhan. Subhanallah , sungguh cekal sekali lelaki tersebut. Moga Allah memberkatinya.

Berapa ramai insan  yang mampu untuk solat terawih tapi tidak mampu untuk melaksanakan sepenuhya. Saya mengajak diri saya dan pembaca semua untuk bermuhasabah . Jika mereka yang tidak mampu tetapi mereka berusaha sepenuh hati mereka untuk laksanakannya, bagaimana pula kita yang mampu tetapi kita gagal untuk berusaha. 

Kadang-kadang kita tidak mampu untuk laksanakan di rumah, kerana banyak pengaruh akan menguasai diri kita, jadi tempat yang paling sesuai untuk menhindarkan segala macam pengaruh nafsu ialah surau ataupun masjid-masjid . Hal ini dapat menghidupkan jiwa dan rohani kita beribadah kepadaNya.
(Itu pandangan saya)

 Nabi saw bersabda : “Dua nikmat yang selalu dilalaikan iaitu masa sihat dan masa lapang.” (Hadis riwayat Bukhari).
 Kata Ibnu Jauzi: “Terkadang manusia berada dalam keadaan sihat, namun ia tidak memiliki waktu lapang disebabkan kesibukan mengerjakan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang itu mempunyai masa lapang, tetapi ia dalam keadaan tidak sihat. Apabila terkumpul pada seseorang waktu lapang dan nikmat sihat, maka sungguh akan datang rasa malas dalam melaksanakan ketaatan.” 



Fikir-fikirkanlah dan selamat beramal :)

ibtisam92
^^

Last 10 days of Ramadhan super big discounts ;)

Bissmillahirrahmanirrahim

I like this video.


Ramadhan will be leaving us soon. May this Ramadhan truly memorable for our soul by doing good deed that is outstanding than before. Hopefully, Allah reward us with super duper bounty for our deeds. But remember, doing deeds should be together in good intention  which is 'authentic'.


“the most beloved of actions to Allah are the most consistent ones even if little in amount.” [Bukhari]

CARILAH AL-QADAR BUKAN AL-KAMDAR  * this verse is very known among us ;)
so, take note ya !

ibtisam92
^^

Semakin hari semakin kuat di uji ..

Bissmillahirrahmanirrahim

Monolog ;



Tiada daya kekuatan lagi yang aku harapkan kecuali hanya dariNya. Aku senantiasa bermohon moga hati dan iman ini tiada berubah untuk ke arah yang lebih merosot , tapi yang aku ingin dan impikan ianya senantiasa meningkat dan terus meningkat. Menjaga iman itu  terlalu sukar. Banyak pengaruh yang mempengaruhi diri kita , tak kisahlah ianya dari dalaman ataupun luaran. Sama-sama menganding untuk menjatuhkan iman tersebut. Jadi kawalan utama adalah diri kita. Andai tidak bisa mengawal dengan bijak pasti tergelincir.

Hari demi hari , semangat jiwa aku kian menurun dan menurun. Terfikir sejenak . Kenapa aku kian merosot . Sedangkan iman ini senantiasa di uji. Apakah diri ini masih tidak sedar akan hal itu ? Sedar itu ada , tapi memandangnya dengan penuh perasaan yang tidak bertanggungjawab untuk menjaga dengan baik. Kesal .

Dugaan itu akan timpa dan terus menimpa dalam menguji keimanan diri ini. Berhadapan dengan ujian dan cabaran bukannya berhadapan dengan hati yang kosong dan iman yang pudar. Hati dan iman perlu di bekalkan. Jika tidak impaknya menjadi parah merana .

Wahai diri kenapa masih membingung dan menyepikan diri . Banyak sungguh pengaruh luaran dan dalaman sudah meresap dalam jiwa .Aku perlukan insan-insan terutama sahabat dalam mengingatkan diri ini semula . Kelunakan hati ke arah itu makin keruh. Aku takut ianya jadi hitam tak sejernih yang aku pernah rasakan sebelum ini.

Setiap insan pasti akan di uji , kerana Allah telah berfirman :
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, `Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabuut: 2) 


Nabi saw pernah bersabda :
“Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah swt dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi) 
“Tak seorang muslimpun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya melainkan denganujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Membisu memandang ke langit yang gelap . Merintih padaNya , moga iman ini tidak pernah tersasar dan mampu untuk berhadapan dengan segala ujian yang sedang dan bakal menimpa .Ya Muqallibal qulub, thabit qulubi 'ala dinik. Amin .
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:”Mukmin yang kuat lebih disukai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun pada kedua-duanya ada kebaikan. Berjaga-jagalah terhadap perkara yang boleh mendatangkan kebaikan kepada engkau, pintalah pertolongan daripada Allah. Sekiranya engkau ditimpa sesuatu musibah, maka jangan engkau berkata:”KALAULAH aku lakukan begini maka sudah pasti lain yang berlaku. Tetapi katakanlah:”Itu merupakan takdir Allah dan Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya ‘KALAU’ akan membukakan pintu amalan syaitan.” [Riwayat Muslim]
Hanya Allah swt yang mampu memberikan kekuatan kepada hati yang sememangnya dimilikiNya. Maka,apabila kita diuji oleh Allah swt seharusnya kita kembali merintih kepada Maha Pengasih dan bermuhasabah keadaan diri. Jangan pernah berputus asa kerana qada’ dan qadar yang ditetapkan pasti ada hikmahnya kerana Allah swt tidak akan menzalimi hamba-hambaNya sepertimana janjiNya dalam al-quran(Al-Imran:108).

Cukup sahaja apa yang aku ingin luahkan.


Ibtisam92
^^

Dua perkara ..

Bissmillahirrahmanirrahim

Sebentar tadi pada malam 22 Ramadhan , saya sempat menghadiri satu tazkirah di surau yang berdekatan dengan rumah. Tazkirah itu agak menarik untuk di kongsi bersama . Terselit di situ 'Dua Perkara'. Tak pernah terfikir pun dua perkara itu adalah seperti berikut :



1) Jagalah dua perkara
*Jaga hati ketika solat
*Jaga mata ketika menziarahi rumah orang



2) Ingatlah dua perkara
* Ingat Allah pada bila-bila masa , sama ada tika susah atau senang
*Ingatlah pada kematian



3) Lupalah dua perkara 
* Jasa baik kita pada orang
* Kejahatan yang kita terima oleh orang lain
 Jadi sama-sama la ye , kita jaga , ingat dan lupa akan dua perkara :) Sama-sama kita beramal .

Ibtisam92
^^

Tazkirah Ramadhan ; Saya suka tazkirah ini , Jom dengar :)

Bismillahirrahmanirrahim


Perteguhkan akidah yang haq  :) Moga tiada kesesatan yang menimpa diri kita .Wa'iyazubillah



ibtisam92
^^

LBNK

Bissmillahirrahmanirrahim


Alhamdulillah , Lembaga Biasiswa Kedah telah pun di buka. Kepada pelajar-pelajar yang bakal menyambung pelajaran peringkat Ijazah Sarjana Muda yang sedang tercari-cari pinjaman kewangan bagi menampung kehidupannya di kampus boleh dapatkannya sekarang.  Tetapi ingatnya , syarat-syaratnya seperti berikut bagi pemohon ;




  •  Dilahirkan di Negeri Kedah atau
  •  Salah seorang daripada ibu / bapa pemohon lahir di Negeri Kedah
  •  Telah mendapat tawaran melanjutkan pengajian di dalam Negara di mana-mana 
  • universiti dibawah tajaan LBNK (Senarai IPT Tajaan)
  •  Mengikuti pengajian secara sepenuh masa
  •  Belum menerima mana-mana tajaan Pinjaman / Biasiswa / Penganjur daripada 
  • badan-badan tajaan yang lain

*Untuk dapatkan terma dan syarat , boleh klik di sini .
*Permohonan di lakukan secara online .



 | Selamat mengisi borang ya  |
Ibtisam92
^^


5 ways to give 'Physical' Sadaqah

Bissmillahirrahmanirrahim

The prophet ( peace be upon Him) said: “On every person’s joints or small bones (i.e. fingers and toes), there is sadaqah (charity) due every day when the sun rises. Doing justice between two people is sadaqah; assisting a man to mount his animal, or lifting up his belongings onto it is sadaqah; a good word is sadaqah; every step you take towards prayer is sadaqah; and removing harmful things from pathways is sadaqah.” [Muslim]

This post only summarize what I have read from productivemuslim article. Based on hadeeth above we might conclude, to do good deeds are not only from mental acts but it also came out from physical acts too .As we want to upgrade our 'amal' we just follow what have been said by our Prophet Muhammad saw.  Thus ,we can perform it in our daily life in order to gain our accomplishment by getting His blessings .



1) Begin your life with a smile
We oftenly heard sadaqah/charity is only related with money and property. It happens when the rich help the poor person or strong help for needy. These are what we heard with parochialism way and the effects was very limited whereas there are more ways we give charity other than merely provision of material. It's not denied it could be a mechanism to create justice in society but hadeeth from Prophet Muhammad (pbuh) : "..Every smile is charity .." have expanded the meaning of charity and thought about it:  the meaning of the material to the spiritual meaning of natureopens up a vastspace without boundaries.





2) Remember Allah frequently 
As a Muslim we always claimed to dzikir/ remember Allah Ta'ala in any circumstances we are. Even we are standing , sitting or lying down , either in a pleasant position or not. Due to remember Allah , our heart and life in tranquil and peaceable .

"Those who have believed and whose hearts are assured by the remembrance of Allah . Unquestionably, by the remembrance of Allah hearts are assured."( Ar-Ra'd ;28)
In a hadeeth , the Prophet sollallahu `alaihi wasallam said:
That is: the parable of the berdzikir with people who do not berdzikir as the living and the dead. (Narrated by Bukhari and Muslim from Abu Musa Al-Ash'ari).



3) Remove harm from the pathway
The Prophet (peace be upon him) meant to remove any harm off the road whether it is tangible such as filth or moral such as actions which take place in the streets and cause harm to the by passers whether they are bad words or actions which are not acceptable to common sense and the public taste.
Moreover ,it will increase our vigilance and could be improve the ambience's of society in comfortable and protected .



4) Says good words 
The Prophet said: He who believes in Allah and the Hereafter, let him speak only good things or keep quiet and those who believe in Allah and the Hereafter, he should honor his neighbor. Similarly, those who believe in Allah and the Hereafter, he should honor his guests. (Bukhari)



5)Donate your talent/skill/strength


That's all :)
ibtisam92
^^

MasyAllah , Barakallahulakuma fil khair ..

Bissmillahirrahmanirrahim




Firman Allah s.w.t 
Maksudnya : “ Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu daripada diri yang satu( Adam ). Dia ( Allah ) menjadikan daripada diri Adam dan isterinya dan mengembang biak daripada kedua-duanya ramai lelaki dan perempuan….” 

 Sabda Rasulullah s.a.w ,
Maksudnya: Daripada Anas .a, katanya telah bersabda nabi S.A.W bahawa perkahwinan adalah sunnahku, sesiapa yang benci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku. Allah S.W.T menjadikan manusia dengan fitrahnya yang ingin hidup berpasang-pasangan, berkasih-sayang, bahagia, dan dapat memenuhi tuntutan syahwatnya melalui cara yang halal. Fitrah tersebut dapat dilaksanakan melalui ikatan perkahwinan yang sah.



Bulan-bulan yang lepas saya ada dengar khabar mengenai perkahwinan kak dan abang senior yang tua setahun dari saya sudah selamat diijabkabulkan.  Kalau tak silap saya bulan 4 kot.Dan mereka sedang menuntut di Universiti Al-Azhar Mesir. Dan mereka berdua juga asal dari sekolah yang sama ,DMW.  Anda boleh tengok video nya disini .Alhamdulillah ,moga mereka kekal hingga ke akhir hayat. Amin .Tak sempat saya untuk menghadiri kenduri mereka gara-gara kesibukkan di kampus.

Tapi tidak mengapa, saya masih mempunyai  penyampai-penyampai berita yang boleh di yakini faktanya, segala informasi akan dimaklumkan pada saya. Itu pun sudah memadai buatku. Terima kasih ye kepada pelapor-pelapor yang senantiasa setia bersama saya. Hehe.

Minggu lepas , saya menziarahi DMW, bersama sahabat yang baik ; HAFIZAH , MADIHAH & SARAH. Selepas keluar dari bilik guru perempuan , kami terserempak dengan dua orang senior yang baru sahaja keluar dari bilik guru lelaki. Terus menerus salah seorang sahabat saya membisikkan sesuatu di telinga saya. Agak terkesima seketika di tambah pula dengan kesyukuran yang tidak terhingga buatNya  kerana ada saudara yang bakal memurnikan ikatan mereka dengan perkahwinan. Alhamdulillah. Di tujukan khas buat :
*Akh Hafizuddin & Ukht Akmal ( mereka berdua dari DMW dan satu kelas )
*Akh Firdaus & maaf tidak dapat di kesan lagi nama bakal isterinya ,kalau tak silap pelajar Zagazig. Kalau salah informasi harap perbetulkan.

Subhanallah, jodoh itu sudah di tetapkan olehNya. Saya dan sahabat yang lain tidak pernah terfikir  mereka itu bakal di satukan. Itulah di namanya ketentuan Tuhan. Yang penting ialah berdoa untuk dapatkan yang terbaik. Alhamdulillah mereka itu insan yang sangat soleh dan solehah yang mampu menjadi tauladan buat adik-adik junior DMW dan yang lainnya.

Dan sangat terkejut dan bertambah lagi terkesima saya pabila mendapat satu panggilan dari sahabat mengenai perkahwinan yang bakal di langsungkan pada bulan September depan. Mereka  ialah adik junior saya. *Hambali & Nadihah*.Waahh , dah langkah bendul ni, haha. Anyway, I'm very grateful to Him , as He unite both of them with a noble bond which is a marriage. Alhamdulillah.  Selepas ini siapa pula ye yang bakal berkahwin dari kalangan pelajar DMW ?  emm ..

Berkahwin  semasa belajar ada pro dan kontra nya. Dan saya ingin mengatakan  jika ingin jauhi dari segala macam fitnah terutamanya zina lebih baik kahwin/ berpuasa daripada melakukan pelbagai hal yang bertentangan dengan syariat Islam.

"Wahai para pemuda, sesiapa di antara kamu yang mampu menikah, maka menikahlah. Kerana dengan menikah itu, ia akan dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan sesiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Kerana dengan berpuasa itu akan dapat menahan syahwatnya." (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 5066)

* untuk menambah info , DISINI*




“Ya Allah..Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku di dunia dan akhirat kelak, Dengarkanlah rintihan hamba-Mu yang dhaif ini,Jangan Engkau biarkan aku sendirian di dunia ini maupun di akhirat kelak, Sebab itu menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran,Maka, kuruniakanlah aku seorang pasangan yang beriman, supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup ke jalan yang Engkau redhai,Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh,Amin… Amin… Ya Rabbal Alamin.”

ibtisam92
^^ 


Kelas 45 : Kelmarin/hari ini Perpisahan

Bissmillahirrahmanirrahim



Kelmarin aku berikan denda kepada mereka. Akibat kedegilan dan kenakalan yang terlampau membuatkan hati ini meronta dengan kesakitan.Huh ! Sikap mereka kelmarin sangat melampau. Hinggakan aku ini berkali-kali memberi arahan tidak juga mereka dengari dan patuhi , malah di bising dan menjerit ke hulu ke hilir. Hati guru mana yang tidak sakit melihat karenah muridnya yang kurang beradab ? Pasti ternyata kesakitan itu akan menjergah jua seketika tapi kemarahan itu bukannya terlalu lama , hanya seketika untuk buat mereka sedar akan diri mereka sebenar.

Selepas tekanan yang mereka berikan kepada ku , aku terus berkata
" Silakan kepada sesiapa yang tidak mahu belajar boleh keluar dari kelas "

Mereka diam seketika , melihat bibit muka aku ini kian kemerahan. Aku menyambung lagi ..
" Alhamdulillah nasib baik esok hari terakhir ustazah mengajar di sini . Tak sabar ustazah utntuk hari esok. kamu ingat ustazah ini tunggul kayu ? "

Sekali lagi bibit muka mereka kian terpapar ketakutan dan keinsafan. Aku dapat rasakan pilih kasih antara mereka antara 'cikgu' dan 'ustazah'. Mereka lebih mendengar arahan dengan baik jika dia itu seorang guru berbanding ustazah. Jadi sangat tidak peduli oleh mereka terhadap insan yang mengajar subjek agama. Kerana mereka rasakan mereka mampu dan sudah pun mengetahui segalanya. Itu yang aku dapat nampak dari segi perilaku mereka.

Akhirnya aku menyuruh mereka berdiri di atas kerusi dan 'ketuk-ketanpi' sebanyak 10 . Puas hati ku .
Itu kisah semalam. Sakit hati plus jiwa plus perasaan yang bernanah dan berdarah itu sudah pun di lenyapkan dari diri ini. Aku akur mereka masih keanak-anakan . Tapi tugas untuk mentarbiyah buat mereka perlu di didik dari awal lagi bak kata pepatah 'melenturi buluh biarlah daripada rebungnya'.


* semua ayat di atas hanya berbentuk HIPERBOLA sahaja*

Biografi Singkat Asy-Syaikh Ahmad Bazmul -Hafizhahullah Ta’ala

Bissmillahirramaniirahim



Nama dan Nasabnya
Beliau adalah Asy-Syaikh yang mulia Ahmad bin Umar bin Salim bin Ahmad bin ‘Abud, Abu Umar Bazmul Al-Makki.
Kelahiran dan Pertumbuhan Beliau
Beliau dilahirkan dan bertumbuh kembang dengan baik di Makkah. Disitulah beliau menimbah ilmu dari para ulama’nya.
Diantara ulama’ dan masyayikh beliau adalah:
Asy-Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, beliau menghadiri pelajaran-pelajaran Syaikh Rabi’, seperti:
  • Syarah Kitabut Tauhid karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
  • Syarah Kitab Asy-Syari’ah karya Imam Al-Ajurri.
  • Syarah ‘Aqidah Ashabul Hadits karya Imam Ash-Shabuni.
  • Dan beliau juga belajar dihadapan Asy-Syaikh Rabi’ beberapa hadits Shahih Muslim dan beberapa kitab lainnya.
Saudara kandung beliau, Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul. Kepada beliau lah Syaikh Ahmad banyak mengambil faedah dan beliau juga belajar kepadanya beberapa kitab, diantaranya:
  • Kitabut Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  • Bulughul Marom, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar.
  • Al-Waroqot, karya Imam Al-Juwaini.
  • Beberapa Risalah tentang tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  • Muqoddamah Tafsir, karya Ibnu Taimiyyah.
  • Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an
  • Dan beberapa kitab lainnya.
  • Dan beliau diberi ijazah semua riwayat Syaikh Muhamamad Bazmul.
Asy-Syaikh DR. Washiyullah Abbas, dosen di Jami’ah Ummul Qura, Mekkah. Syaikh Ahmad Bazmul belajar kepada beliau kitab Nuzhatun Nazhor, Umdatul Ahkam, dan beberapa pelajaran lainnya.
Ada beberapa ulama’ dan masyayikh lainnya lagi yang beliau keruk ilmunya di berbagai macam ilmu dan bidang-bidangnya.
Ijazah Haditsiyah
Diantara ulama’ yang memberikan kepada beliau Ijazah dalam hal periwayatan hadits adalah:
  • Asy-Syaikh Muhammad Abdullah Ash-Shaumali.
  • Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi.
  • Asy-Syaikh Abdullah Aad Asy-Syinqithi. Rahimahullah
  • Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholi Hafizhahullah.
  • Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah As-Sabil.
  • Asy-Syaikh Yahya bin Utsman Al-Mudarris.
  • Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al-‘Aqil, manta ketua Majlis Qadha’ Al-A’la.
  • Asy-Syaikh Washiyullah ‘Abbas.
  • Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul Hafizhahumullah Ta’ala.
Terjun ke Medan Dakwah dan Mengajar

Di antara kebiasaan dan adab yang kita dapati dari para ulama’ salaf adalah mereka tidak memberanikan diri untuk terjun dan tampil di medan dakwah sampai diberi ijin dan rekomendasi dari para guru mereka.
Sebagai contoh adalah Al-Imam Malik, Khalaf bin ‘Umar Shiddiq meriwayatkan, bahwa suatu ketika ia berada di sisi Imam Malik bin Anas.


 Khalaf berkata: “Aku mendengar Malik bin Anas berkata, ‘Tidaklah aku berfatwa hingga aku bertanya kepada orang yang lebih berilmu dariku, apakah ia memandang aku memiliki tempat dalam hal itu (fatwa)? Aku bertanya kepada Rabi’ah dan bertanya kepada Yahya bin Sa’id, maka keduanya memerintahkan aku untuk itu.Maka aku (Khalaf,pen) berkata kepadanya (Malik bin Anas), ‘Wahai Abu Abdillah, seandainya mereka melarangmu? Beliau menjawab, ‘aku akan berhenti. Tidak pantas bagi seseorang menilai dirinya telah mapan tentang sesuatu hingga ia bertanya kepada orang yang lebih berilmu darinya.” (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/312)


Para pembaca rahimakumullah, itulah bukti bahwa di antara akhlaq salaf adalah tidak memberanikan diri tampil untuk berdakwah kecuali setelah mendapatkan rekomendasi dari para ulama’nya.
Jika kita perhatikan keadaan Asy-Syaikh DR. Ahmad Bazmul Hafizhahullah, maka beliau tidak jauh dari apa yang telah ternukilkan dari Al-Imam Malik. Beliau hafizhahullah tidak memberanikan diri untuk tampil di medan dakwah sampai mendapatkan rekomendasi dan ijin dari masyayikh beliau.
Diantara para masyayikh yang memberi rekomendasi beliau untuk berdakwah dan mengajar adalah:
  • Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam.
  • Asy-Syaikh Muhammad As-Sabiil.
  • Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali.
  • Asy-Syaikh Washiyullah ‘Abbas.
  • Asy-Syaikh Muhammad Umar Bazmul.
  • Dan beberapa masyayikh lainnya.

Tentu para ulama’ dan masyayikh tersebut tidaklah sembarangan memberikan rekomendasi kepada seseorang untuk mengajar dan berdakwah kecuali setelah mengetahui bahwa orang tersebut memiliki kemapaman dalam bidang tersebut.

Pernah ditanyakan kepada Asy-Syaikh DR. Ahmad Bazmul Hafizhahullah Ta’ala, “Seandainya mereka tidak membolehkanmu (berdakwah dan mengajar)?” Beliau menjawab:  “Aku akan berhenti mengajar.”
Subhanallah, benar-benar menakjuban. Demikianlah seharusnya akhlaq seorang ‘alim dan seorang salafi, berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti jejak para salafush shalih.
Demikian pula, ketika mengajar di Ma’had Al-Haramil Makki, beliau mendapatkan rekomendasi dari empat Ulama’ Ma’had. Mereka adalah:
  • Asy-Syaikh Yahya bin ‘Utsman Al-Mudarris.
  • Asy-Syaikh Musa As-Sukkar.
  • Asy-Syaikh Abdullah At-Tinbukti
  • Asy-Syaikh Sayyid Shadiq Al-Anshari
Dan beberapa gurunya juga meminta beliau untuk mengajar dan berdakwah agar para penuntut ilmu bisa mengambil faedah darinya.
Dari sinilah beliau memberanikan diri untuk mengajar dan berdakwah. Alhamdulillah, beliau telah mengajar di beberapa Ma’had di Saudi Arabiyah, diantaranya adalah:
  • Ma’had Al-Haram Al-Makki, di Mekkah.
  • Ma’had Manabir As-Su’ada’
  • Ma’had Al-‘Ilmiy As-Sanawi, keduanya di Jeddah, pada mata pelajaran Tafsir, hadits, mustholah, dan takhrij.
  • Jami’ah Thoif, pada mata pelajaran ahaditsul ahkam, fiqih, mawarits (hukum waris), qowa’id ushuliyah, dan takhrijul furu’ ‘alal ushul.
Beliau juga memberikan muhadharah di radio Idza’atul Qur’an dengan tema “Ma la yashluhu fi shiyam”
Dan di radio Idza’atu Nida-il Qur’an dengan tema “Al-Minnah fi Nasyris Sunnah”.
Beliau juga mengajarkan beberapa cabang ilmu pada beberapa daurah ‘ilmiyyah, seperti:
  • Ushul Tafsir
  • Fiqih
  • Hukum waris
  • Nahwu
  • Takhrij
  • Dan Dirosah asanid
Beliau juga memberikan berbagai kajian ilmiyyah di beberapa masjid…
Dan beliau sekarang sebagai Dosen di Jami’ah Ummul Qura, Mekkah Al-Mukarromah.
Pujian Para ulama’
Di antara ciri seorang ‘alim yang dapat diambil ilmunya adalah adanya rekomendasi dan pujian dari ‘alim lain yang setara atau lebih tua dari sisi umur dan ilmu. Baik pujian itu kembali kepada pribadi ‘alim tersebut atau kembali kepada ilmunya. Demikianlah kiranya Asy-Syaikh DR. Ahmad Bazmul Hafizhahullah Ta’ala.
Diantara para ulama’ yang memuji beliau adalah:\
1. Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam 
Beliau adalah murid Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah Ta’ala. Beliau menyatakan:الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد أما بعد: فبخصوص الأخ الشيخ : أحمد بن عمر بن سالم بازمول السعودي الجنسية هو من طلاب العلم ومتخرج من جامعة أم القرى ويحضر الشهادة في الكتاب والسنة، وهو صاحب دين واستقامة، كما أن فيه الكفاءة للصلاة والإمامة والخطابة والوعظ وهو بعيد عما لا يعنيه من الأمور والله الموفق .
2. Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi
Beliau adalah Mufti Saudi bagian selatan, dan murid Asy-Syaikh Hafizh Al-Hakami dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Qar’awi, Rahimahullah Ta’ala.
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه.
أما بعد :
“Telah memperlihatkan kepadaku Al-‘Allamah Ahmad bin Umar Bazmul -semoga Allah memberinya taufik- tulisannya berjudul Ad-Durarus Saniyyah fi Tsanail ‘Ulama ‘alal Mamlakah Al-‘Arabiyyah As-Su’udiyyah…”
Dalam tempat lain beliau berkata, “Telah mengirimkan kepadaku Asy-Syaikh Al-Fadhil As-Salafi, kitabnya berjudul As-Sunnah fima Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah.”
3. DR. ‘Uwaid bin ‘Iyad Al-Mathrofi Rahimahullah Ta’ala
Beliau berkata: “wa ba’du: Sesungguhnya al-akh al-ustadz Ahmad bin Umar Bazmul… beliau memiliki pemahaman ilmu yang mumtaz dalam menetapkan berbagai masalah ilmiyyah, baik memahami dan membaca. Dan pengetahuannya bagus tentang maraji’ ilmiyyah, dan ia memahami kejadian-kejadian fikriyah yang kesemua itu menunjukkan keahliannya yang ilmiyyah.
Beliau berhak untuk di timba ilmunya. Dan aku berwasiat untuknya dengan kebaikan, mudah-mudahan Allah memberikan manfaat melaluinya islam dan kaum muslimin.”
4. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah As-Sabil
Beliau adalah imam sekaligus khatib Masjidil Harom. Beliau berkata, “Sesungguhnya al-akh asy-syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul adalah salah seorang penuntut ilmu yang baik. Beliau telah meraih gelar magister dari Jami’ah Ummul Qura. Beliau memiliki kesungguhan yang diberkahi dalam berdakwah di jalan Allah, dan mengajari kaum muslimin tentang urusan agama mereka.
Dan kami telah mengenal kebaikan aqidahnya dan manhajnya yang sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, dan beliau juga mentahdzir dari ahlul bida’ dan ahwa’ (pengikut hawa nafsu).”
5. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah Ta’ala
Beliau adalah ulama’ kondang dan sepuh yang semua kita mengenalnya, beliau termasuk anggota Hai’ah Kibarul ‘Ulama. Dalam pendahuluan beliau terhadap kitab Asy-Syaikh Ahmad Bazmul berjudul Al-Madarij, beliau berkata:
“Alhamdulillah wa ba’du: aku telah membaca kitab yang ditulis oleh al-akh fillah, Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul yang bertema Kasyfu Syubuhatil Khawarij (menyingkap syubuhat khawarij), maka aku mendapatinya –bihamdillah- (bantahan) yang mencukupi pada temanya untuk membantah syubuhat kelompok yang melenceng dan merusak ini…, semoga Allah membalas penulis kitab ini dengan balasan yang terbaik. Kitab ini adalah saham darinya yang bagus untuk menahan bahaya mereka, dan meruntuhkan syubuhat mereka. Semoga Allah memberikan manfaat dengan kitab ini, dan membungkam dengannya tipu daya musuh-musuh.”
6. Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah.
Beliau adalah pembawa bendera Jarh wa Ta’dil abad ini, beliau berkata:
الحمد لله والصلاة على رسلو الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه.
“amma ba’du: Sesungguhnya al-akh Ahmad Bazmul, aku mengenalnya termasuk seorang ‘alim yang khair, baik pada agama, akhlak, dan manhaj. Dan aku meyakini bahwa ia termasuk orang yang berhak untuk mengajar dan berdakwah.
Dan ia telah meminta dariku tazkiyah ini, maka aku pun memberinya tazkiyah karena aku yakin ia berhak menerimanya.”
7. Asy-Syaikh Al-‘Allamah Zaid bin Muhammad Al-Madkhali
Beliau adalah seorang ‘alim yang terkenal, semoga Allah menjaganya. Beliau berkata ketika memberi pendahuluan terhadap kitab Ad-Durarus Saniyyah, kata beliau:
“Dan aku telah menyempurnakan pengecekan atas risalah berjudul Ad-Durarus Saniyyah fi Tsana-il Ulama’ yang disusun oleh saudara kami yang mulia Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul.”
8. Ada beberapa tazkiyah lain dari masyayikh lainnya
Karya Tulis Beliau
Asy-Syaikh Ahmad Bazmul memiliki sekian karya tulis yang itu semua menunjukkan kemapamannya dalam hal dakwah dan mengajar. Diantara karya tulis beliau adalah:
1) رسالة عمر بن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء وآدابه رواية ودراية.2) المقترب في بيان المضطرب.3) المدارج في كشف شبهات الخوارج.ـ4) السنة فيما يتعلق بولي الأمة.5) الدرر السنية في ثناء العلماء على المملكة العربية السعودية.6) دولة التوحيد والسنة.7) تحفة الألمعي بمعرفة حدود المسعى وأحكام السعي8 ) حجية الأحاديث النبوية الواردة في الطب والعلاج9) خطورة نقد الحديث.10) النجم البادي في ترجمة الشيخ العلامة السلفي يحيى بن عثمان عظيم آبادي.11) الانتقادات العلية لمنهج الخرجات والطلعات والمكتبات والمراكز الصيفية وهو كتاب ألفه مشاركة مع الشيخ أحمد بن يحيى الزهراني.12) قواعد وضوابط في فقه الفرائض والمواريث
Lihat versi arabnya di :
http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=7829
Bagi yang sudah memiliki kemampuan berbahasa arab kami sarankan membaca Biografi beliau yang berbahasa arab di link yang kami sertakan di atas. Karena padanya ada tambahan dan pemahaman yang tidak ada pada tulisan kami wallahu a’lam
sumber ;)

ibtisam92
^^