Pin It

Widgets

gersang + serabut , kenapa ?

Bissmillahirrahmanirrahim

Ramai juga insan yang dikelilingi kemewahan hidup namun hatinya bagaikan gersangnya dipadang pasir. Kosong, hambar, tawar, panas dan pelbagai lagi keresahan yang mencengkam jiwa dan diri kita. Wang berjuta, pakaian mewah jutaan ringgit,, kereta mewah berderet, isteri-isteri yang jelita, anak-anak yang ramai dan pelbagai lagi tidak menjamin dapat rasa bahagia dan tenang. Justeru apakah nilai sebenar yang mampu menyejukkan hati dan menyamankan jiwa?
Nilai yang dapat mengisi jiwa manusia hakikatnya tidak terpahat pada kilauan berlian, kerlipan emas, kejelitaan wajah dan lain-lain. Oleh itu dimanakah kita dapat mencarinya? Apakah nilai yang membahagiakan itu sebenarnya tidak wujud atau ia sengaja disembunyikan kerana takutkan sesuatu?

Lantaran itu janganlah kita tertipu ibarat seorang yang sedang kehausan dipadang pasir dengan kilauan Fatarmorgana yang disangkakan air Fatarmorgana yang kita sangkakan air itu seolah olah menguji tahap keimanan kita sebenar . Pelbagai rancangan dari saluran informasi yang kini bertukar wajah kepada saluran hiburan . Hanya seberapa sahaja saluran informasi itu di salurkan kepada masyarakat.Begitu juga saluran keagamaan. Hanya penonton yang berjiwa kental dan beriman mampu menolak badai kehancuran itu , menolak segala fitnah di akhir zaman ini. Manusia mana yang mampu pabila segala sekeliling itu seolah-olah mengajarkan kita lupa tentang kehidupan dunia ini hanya singgah sana yang sementara.

Hari akhirat itu bila -bila masa akan menyergah dan menghancurkan alam ini. Hanya Dia sahaja yang tahu. Kita ini hanya perlu berbekalkan iman dan takwa.  Kita sudah bersediakah ?



Diri yang hatinya kosong dan hambar tidak pernah terfikir pun akan penciptaan yang Maha Besar. Segala kegunaan itu yang kita gunakan hanyalah pinjaman dari Allah. Kita guna biarlah sederhana , janganlah berpada-pada. Pada dasarnya semua manusia menyenangi kekayaan dan harta benda. Kadangkala karena mengejar harta, didominasi hawa nafsu dan bisikan syaitan malah ada manusia yang sampai rela berbunuh-bunuhan, merampok, korupsi bahkan memutuskan silaturrahim. Dunia dicipta sebagai ujian buat manusia, siapakah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya harta dunia tidak akan membawa arti apa-apa jika tidak dimanfaatkan ke jalan yang diridhai Allah.
Hakikat harta diterangkan Rasulullah saw seperti sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Seorang hamba (manusia) berkata, ‘Hartaku, hartaku!’ Padahal hartanya itu sesungguhnya ada 3 jenis: (1) Apa yang dimakannya lalu habis. (2) Apa yang dipakainya lalu lusuh. (3) Apa yang disedekahnya lalu tersimpan untuk akhirat. Selain yang 3 itu, semuanya akan lenyap atau ditinggalkan kepada orang lain”.(Muslim).

Harta pada dasarnya bersifat neutral. Ia tidak mulia atau hina, baik atau buruk. Ia lebih sebagai ujian bagi sifat dasar manusia terhadap Allah SWT. Dengan harta itu, mampukah ia menjadi hamba yang lebih dekat kepada−Nya, atau justru menjadi budak harta yang terlena dan terpedaya olehnya. Pendek kata, ia merupakan cobaan bagi keimanan dan ketaatan hamba kepada Sang Pencipta. Firman Allah SWT:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
”Sesungguhnya hartamu dan anak−anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. At−Taghabun: 15).


Ayat di atas tidak hanya memastikan bahwa harta adalah ujian, namun juga menunjukkan sesungguhnya harta juga jenis kenikmatan duniawi lainnya seberapa pun besarnya, tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan Allah. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, ia tetap kecil di hadapan Allah dan tidak kekal. Tapi, yang bernilai adalah ketika harta itu bisa difungsikan dengan tepat, sesuai dengan yang Allah amanahkan. Jika demikian, maka pahala di sisi Allahlah yang menjadi balasannya.
Firman Allah ta'ala :

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا
“Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanya sebentar (sementara). Dan, akhirat itu lebih baik untuk orang−orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” (QS. An−Nisaa’: 77).

Rasmul Bayan "Quwwatul Maal (Kekuatan Finansial)"
Begitulah Allah SWT menjelaskan hakikat harta dan segala kenikmatan dunia lainnya. Sebagai ujian, ia ditimpakan kepada siapa saja, dan tanpa pandang bulu: orang kaya, orang miskin, cendekiawan, pejabat, dan bahkan agamawan. Masing−masing diuji dengan harta yang ada pada mereka.
Kesadaran memahami kehidupan dunia sebagai ujian semacam ini perlu dibangun agar harta tidak membutakan mata hati dan memalingkan manusia dari Allah SWT.
Firman Allah Ta'ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang−orang yang beriman, jangan sampai harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari Allah. Siapa yang terlalaikan oleh harta dan anak, maka mereka itulah orang−orang yang rugi.” 
(QS. Al−Munafiqun: 9).

Karena itu, sikap terbaik dalam menjalani hidup adalah berperilaku zuhud. Zuhud adalah sikap di mana kita tidak merasa bangga, buta hati, dan terpedaya dengan harta dan segala kenikmatan dunia. Sebaliknya, kita juga tidak merasa kehilangan dan berduka ketika segala kenikmatan tersebut dicabut dari kita. Allah berfirman:

لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
”Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan−Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(QS. Al-Hadid: 23)

Orang yang bersikap zuhud niscaya akan selalu tenang menjalani hidup dan selalu merasa cukup dan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Ia tidak sombong dan terlena dengan harta karena menyadari betul ia hanyalah amanah dari Allah untuk dipergunakan dengan tepat.

Allah berfirman ,di dalam surah Al-Qasas, ayat 83 :
"Negeri akhirat (yang telah diterangkan nikmat-nikmatnya) itu, Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak bertujuan hendak mendapat pengaruh atau kelebihan di muka bumi dan tidak ingat hendak melakukan kerosakan; dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa." 

Jadi tidak anehlah kenapa kita sentiasa di hantui dengan rasa dan perasaan kegersangan terasa jiwa ini yang teramat kosong seolah olah tidak ada setitik pun yang mengisi hati ini. Nah , kenapa kita sebegini dan sebegitu sudah pun ia terpapar di atas . Harta dan saratnya kehidupan kita dengan segala isi yang pelbagai macam dan penuhnya dengan kemewahan kita lupa akan hakikat yang sebenar yakni tujuan kita yang lebih utama yakni , " beribadah kepada Allah".




"Allah akan jaga kita seandainya kita menjaga Allah"

|pesanan  buat diri khasnya dan pembaca semua|

ibtisam92
^^

No comments: